Earth Day - Hari Bumi 22 April

Peradaban Kota Salatiga

6 October 2012 02:53 AM

 

Kota adalah sebuah element penting dalam perkembangan sebuah bangsa, Karena perkembangan Sebuah masyarakat dan pola hidupnya dipengaruhi oleh perkembangan kotanya secara umum. Terdapat proses yang panjang untuk sebuah tempat yang dihuni oleh masyarakat dapat dinamakan dan Ditetapkan sebagai sebuah Kota.

Salatiga adalah Sebuah Kota kecil di jawa Tengah dan tidak banyak orang yang mengetahui keunikan, Kekayaan Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan yang dimiliki oleh Kota Salatiga, Salatiga lebih dikenal sebagai kota yang adem ayem dan kota pensiunan. Salatiga dalam perkembangan Sejarahnya memiliki 5 zaman berbeda yang berpengaruh dalam perkembangan kebudayaan dan pola hidup masyarakat Salatiga.

Kelima zaman Tersebut adalah zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Kolonial, kemerdekaan, dan Pemerintahan Orde Lama yang Dipimpin Oleh Soekarno. Kelima Zaman yang pernah ada di salatiga ini mewarnai Perkembangan kota dari berbagai macam aspek, dari ekologi, tata kota, masyarakat, Kebudayaan, dan masih banyak yang lainnya. Bukti dari kelima Zaman di Salatiga ini masih dapat dilihat dan dikenang hingga saat ini, mulai dari bukti Bangunan, Pustaka, potret. Namun tidak banyak yang mengetahui hal ini, bahkan penduduk Salatiga Sendiri tidak banyak yang menyadari kekayaan Salatiga Seperti ini. Dari Bukti-bukti yang masih dapat kita temukan, kita dapat mengetahui keadaan suatu zaman.

Kelima Zaman dalam Sejarah yang dimiliki Kota Salatiga diawali dengan zaman Hindu yang dibuktikan dengan ditemukannya berbagai macam Peninggalan peradaban Hindu yang tersebar di beberapa wilayah di Salatiga seperti ditemukannya antevik Candi bercorak Hindu(Hiasan Candi), Lingga (perlambang alat Kelamin Siwa), Yoni (Perlambang alat Kelamin Durga, istri Siwa), atap Candi, lapik Candi yang ditemukan di daerah Turusan, Kemudian Prasasti Plumpunngan yang berangka tahun 750M yang pada akhirnya dijadikan Sebagai acuan Hari jadi Kota Salatiga, Antevik Candi yang ditemukan di daerah Pancuran Salatiga, patung Nandi(lembu) yang ditemukandi Universitas Kristen Satya Wacana, dan masih banyak penemuan lainnya. Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa pernah ada peradaban Hindu di Salatiga yang dahulu pada abad ke VII-XV dikenal sebagai periode Hinduisasi di Nusantara yang berakhir dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit, dan ternyata Salatiga juga termasuk dalam Bagian Proses Hinduisasi tersebut.

prasasti plumpungan

Kedua adalah Zaman Islam yang dibuktikan dengan adanya peninggalan-peninggalan masa Islam Seperti makam Islam dan masjid, juga beberapa topologi daerah di Salatiga, dan Pola Kota tradisional yang mendapat pengaruh Islam masih dapat dilihat di Bundaran Pancasila, Dimana Dahulu adalah pusat pemerintahan Tradisional yang disebut kepatihan dengan alun-alun sebagai pusat kota yang disekitarnya terdapat Rumah Tinggal Patih yang lebih dikenal dengan kepatihan, Masjid, dan Fasilitas Kota Lainnya yang dipengaruhi oleh ajaran Islam. Topologi Sebuah daerah yang ada di Salatiga yang mendapat pengaruh islam salah satunya adalah daerah kauman, daerah kauman ini pada masa islam Dikenal Sebagai daerah para Santri dan Kiai, Saat ini Di kauman Masih terdapat Masjid yang megah dan dipercaya Sebagai masjid tertua di Salatiga, yang juga masih dikenal sebagai Masjid Kauman.

salatiga tempo dulu

Ketiga adalah Zaman Kolonial yang dapat dilihat dari wajah Kota Salatiga yang lebih modern, tata Kota Salatiga yang mengikuti tata Kota di Eropa, dengan Pusat Kota yang saat ini dapat dilihat di Bundaran Depan Ramayana sebagai Pusat Kota yang menghubungkan 4 ruas Jalan. Di Sekitar Pusat kota Kolonial itu dahulu terdapat kantor Pemerintahan, Rumah Dinas Assistant Resident (Setingkat Walikota), dan taman Kota, kemudian yang sampai saat ini masih bisa dilihat adalah tata Kota yang membedakan Pemukiman antara Warga Eropa dengan Etnis Tionghoa Sebagai Penggerak ekonomi, Kawasan Tionghoa sebagai pusat perdagangan terdapat di Ruas Jalan Jendral Sudirman yang dahulu dikenal sebagai Solowech, dan Pemukiman untuk Bangsa Eropa dikususkan ruas jalan Diponegoro yang dahulu dikenal dengan Jalan Toentang Wech.

Keempat adalah Pasca Kemerdekaan Indonesia, Salatiga Juga turut andil dalam masa Pasca kemerdekaan bangsa Indonesia. Salah satunya ketika peristiwa Bumi Hangus yang dilakukan pada saat agresi militer Belanda ke 2 di Salatiga pada tahun 1948. Upaya Bumi Hangus ini dilakukan oleh masyarakat Salatiga agar Bangsa Kolonial tidak dapat mempergunakan fasilitas kota sebagai upaya untuk mempertahankan kekuasaan bangsa kolonial di Salatiga. Beberapa Bangunan yang dibumihanguskan adalah Hotel berg en dal yang pada masa kolonial digunakan sebagai penginapan khusus masyarakat pribumi.

Kelima adalah pasca pemerintahan Orde Lama yang dipimpin oleh Ir Soekarno, Salatiga juga menjadi Bagian dalam Sejarah Kehidupan Presiden Soekarno dibuktikan dengan pertemuan atau kisah Cinta Ir Soekarno dengan istri ke-4nya bernama Hartini di Salatiga saat dirinya melakukan kunjungan ke daerah-daerah di Jawa Tengah, dengan Bangunan Rumah dinas Walikota saat ini yang menjadi saksi bisu pertemuan keduanya. Hal ini dikatakan dalam sebuah Buku karangan Arif Budiman yang berjudul “Kebebasan, Negara, Pembangunan”. Dalam Masa Pemerintahan Orde lama ini Jiwa Zaman kala itu masih menunjukkan Semangat Nasionalisme yang tinggi, apalagi masyarakat Salatiga dapat mendengar dan merasakan langsung ketika Salah satu founding father bangsa ini yaitu Ir Soekarno berbicara langsung di depan Masyarakat Salatiga pada tahun 1952 di depan Ramayana saat ini.

salatiga tempo dulu

Dari bukti-bukti di atas kita dapat melihat bahwa Kota Salatiga memiliki berbagai macam kekayaan pengetahuan dari beberapa zaman yang memotret setiap kehidupan masyarakat pada zamannya. Dari masing-masing zaman memiliki cirri khas dan jiwa zamannya masing-masing. Salatiga hanya sebuah kota kecil namun tidak banyak kota yang memiliki peninggalan dari beberapa zaman yang membentuk sebuah Kota seperti Salatiga.

Dengan kekayaan Ilmu Pengatahuan dan Kebudayaan seperti ini seharusnya Salatiga dapat mengembangkan potensi-potensi tersebut sebagai sebuah pioner dalam dunia pariwisata di Salatiga. Dengan Potensi Seperti ini masyarakat Salatiga seharusnya bangga dan bisa mengenal kotanya lebih jauh dan mendalam dari berbagai macam aspek. Mengenalkan dan penyadaran mengenai Sejarah dan Budaya Sebuah Kota yang menjadi identitas dan jatidiri kotanya sangat penting untuk dilakukan, agar Masyarakat mempunyai rasa memiliki kotanya. Maka dengan rasa memiliki ini Pembangunan Sebuah kota akan lebih termonitor oleh masyarakatnya. Inilah salah satu wujud Keistimewaan Kota Kecil yang dikenal dengan nama Kota Salatiga.

Sumber : Kampoeng Salatiga | Foto : www.kotasalatiga.com, www.salatiga.nl

Artikel terkait :

  1. Kebudayaan indis di Salatiga
  2. Wisata Sejarah Bangunan Tua di kota Salatiga
  3. Pahlawan dari Salatiga, Adisutjipto
  4. Seni Budaya Bersemi
  5. Kopeng Treetop – New Sensation Nature’s Adventures
comments powered by Disqus