Hari Nelayan Nasional

Mempertahankan Jati Diri dan Identitas Kota Salatiga

21 March 2013 11:13 AM 0 comments
Ex Kompleks Kodim 0714

Ex Kompleks Kodim 0714

Bangunan ex-Kodim adalah salah satu bangunan yang masuk dalam daftar Identifikasi Benda Cagar Budaya Kota salatiga pada tahun 2009, dan masuk klasifikasi bangunan klas I, dimana penjagaan dan pelestarian lebih ketat dibanding dengan bangunan lain yang klasifikasi bangunan’nya kelas II atau III. Namun apa yang terjadi pada tahun 2010, ketika kota Salatiga masih di bawah kepemimpinan Walikota John M. Manoppo, Bangunan ini menjadi kontroversi karena bangunan telah dihancurkan dan akan digantikan sebagai bangunan untuk tempat perbelanjaan atau Mal, padahal bangunan ini masuk dalam klasifikasi bangunan klas I di Salatiga. Pada akhirnya bangunan kantor ex-Kodim 0714 mangkrak karena belum ada kejelasan mengenai kelanjutan penanganan kasus bangunan ini. Namun pada tahun 2013 ini, kembali muncul wacana untuk melanjutkan pembangunan Mal yang akan menggantikan reruntuhan Bangunan Cagar Budaya kantor ex-Kodim ini. Izin dari pemerintah kota salatiga’pun ternyata sudah dikeluarkan.

Hal seperti ini menjadi sebuah lelucon bagi citra kota Salatiga dimata berbagai kota/kabupaten di Indonesia, dimana kota Salatiga ikut bagian dalam Jaringan kota pusaka Indonesia, yang saat ini beranggotakan 48 kota/kabupaten dari seluruh Indonesia. Anggota jaringan Kota Pusaka Indonesia bertanggung jawab dalam menjaga dan melestarikan Bangunan-bangunan/ Benda Cagar Budaya yang ada di masing-masing Kota’nya. Namun semua itu bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di kota Salatiga saat ini. Pada akhir tahun 2012 lalu, peristiwa perobohan bangunan ex-rumah tinggal Pahlawan Nasional yaitu rumah tinggal dr.Muwardi telah terjadi, dan kini reruntuhan bangunan tersebut mangkrak. Belum hilang asap peristiwa perobohan bangunan ex-Rumah tinggal dr.Muwardi, kini sudah disusul dengan rencana dilaksanakannya pembangunan MAL di lokasi reruntuhan Ex-Kodim 0714 yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Salatiga.

Riwayat Sejarah bangunan kantor ex-kodim ini pada masa pemerintahan Belanda digunakan sebagai sebuah Hotel yang disediakan untuk masyarakat umum, karena Salatiga sejak dulu dikenal sebagai sebuah kota wisata dan kota persinggahan, dan bangunan ini salah satu bangunan yang menunjukkan identitas kota Salatiga dan menjadi fasilitas pendukung sebagai kota wisata. Bangunan diperkirakan didirikan pada awal abad XX, yang pada tahun 2013 ini berumur hampir 100 tahun. Sudah pasti bangunan ini masuk dalam daftar Bangunan Cagar Budaya di Salatiga, dan dahulu tidak hanya berfungsi sebagai hotel saja, namun juga pernah digunakan sebagai kantor pasukan KNIL, dll. Dan Undang-undang mengenai BCB kini telah diperbaharui menjadi UU no.11 tahun 2010, dimana semua yang berkaitan tentang pelanggaran terhadap Benda Cagar Budaya sudah tercantum dalam UU tersebut.

Lokasi kantor ex-kodim sangat dekat dengan kawasan pendidikan dan beberapa tempat peribadatan di pusat kota Salatiga. Oleh karena itu, keberadaan Mal di kawasan ini pastinya dapat memberikan dampak bagi masyarakat sekitar. Akankah pembangunan Mal baru di kota di kawasan ini tetap dilaksanakan?, dengan tetap menabrak berbagai macam resiko-resiko yang akan merugikan masyarakat Salatiga, dimana kawasan tersebut menjadi Salah satu Kawasan pendidikan di Salatiga, dan juga Salatiga pastinya akan kehilangan salah satu identitas kotanya lagi.

Ex Kodim Salatiga dirobohkan

Ex Kodim Salatiga dirobohkan

Jika perobohan bangunan ini terjadi terus-menerus maka kota Salatiga akan menjadi sebuah Kota yang tidak memiliki identitas dan jatidiri kota yang menjadi bagian dari Bangsa Indonesia, dan ini sangat memprihatinkan. Masyarakat Salatiga tidak dapat lagi menunjukkan bahwa bangsa kita pernah dijajah oleh Bangsa Belanda, dan dengan kekuatan sendiri dapat mewujudkan apa itu yang dinamakan kemerdekaan. Masyarakat Salatiga tidak dapat lagi membuktikan kota Salatiga adalah kota persinggahan dan wisata yang sangat diminati bagi bangsa eropa dan tokoh-tokoh besar yang berpengaruh di Indonesia maupun di Dunia seperti Oei Tiong Ham(raja gula asia tenggara), keluarga R.A Kartini(R.A Kardinah, R.A Soematri, dan R.A Kartinah),dll yang pernah tinggal di Salatiga.

Memang Bangunan Cagar Budaya masih awam di mata masyarakat, ketika masyarakat Salatiga terus membiarkan penghancuran satu demi satu bangunan Cagar Budaya yang memiliki nilai Sejarah, memiliki makna perjuangan, menyimpan berbagai macam Ilmu Pengetahuan, suatu saat masyarakat Salatiga akan terbelalak dan kecewa ketika identitas kota Salatiga sebagai kota wisata dan kota persinggahan yang sudah dikenal sejak lama dan dari masa ke masa, tidak dapat dibuktikan dengan bukti-bukti fisik yang dapat menguatkan argumen tersebut.

Jika kita dapat menengok ke Negara-negara di benua Eropa dan Amerika yang sering orang Indonesia bangga-banggakan modernitas dan segala macam kemajuan dari berbagai bidang, sebagai Negara maju mereka tetap mempertahankan berbagai macam bangunan yang menjadi bukti Sejarah perjuangan dan semangat bangsa mereka. Bangunan tersebut juga digunakan sebagai tempat-tempat wisata di Negara-negara maju untuk mengenalkan kebesaran bangsa mereka. Bangunan tersebut juga menjadikan bangga, karena dari setiap bangunan memiliki nilai Sejarah, Budaya, Sosial, dan juga Arsitektur yang menunjukkan identitas bagi kota atau negara.

Pengembalian identitas kota Salatiga sebagai kota wisata dan persinggahan yang tidak semua kota di Indonesia memilikinya dapat terwujud ketika masyarakat Salatiga sendiri sadar akan sejarah dan Budaya bangsanya dab bisa mempertahankan bukti-buktinya. Selain itu peran Pemerintah Kota Salatiga sebagai pihak yang memiliki power untuk mewujudkan sangat dibutuhkan untuk dapat melihat potensi tersebut. Karena sebenarnya kota Salatiga tidak perlu menjadi sama seperti kota-kota besar lain di Jawa tengah yang memiliki berbagai macam pusat-pusat perbelanjaan yang memanjakan kantong para konsumen.

Dengan menjadikan bangunan-bangunan Cagar Budaya dan kesenian kota Salatiga sesuatu yang ditonjolkan sebagai hal yang menarik untuk dilihat dan dinikmati, maka Salatiga akan memiliki destinasi wisata Baru yang berbeda dengan kota-kota lain, dan menarik wisatawan untuk datang ke Salatiga. Alangkah lebih baiknya ketika Salatiga tetap mempertahankan identitas kotanya dan mempertahankan peninggalan Sejarah masa lalu yang bernilai dan bermakna tersebut. Pastinya sebagai kota yang berkualitas seperti Salatiga, masyarakat dengan pemerintah’nya mampu untuk mewujudkan Salatiga menjadi kota yang tetap menghargai Sejarah kota sebagai identitas dan jati diri masyarakat Salatiga dan Kota Salatiga.

“Tengok dan Sapalah Sejarah juga Budaya bangsamu, maka akan kita lihat bangkitnya negri ini”

Abel Jatayu P

 

Tulisan dikirim oleh Abel Jatayu P ( Mahasiswa Sejarah UNDIP / Komunitas Kampoeng Salatiga)

Foto : cagarbudayasalatiga.com

Artikel Terkait :

Polisi.Panggil.Saksi.Pembongkaran.Eks.Kodim.Salatiga – Kompas

BP3 Jateng pastikan eks-Kodim 0714/Salatiga masuk BCB kelas I – Solopos

Bangunan eks-Kodim bukan BCB – Solopos

Artikel terkait :

  1. Hancurnya Rumah Tinggal dr Muwardi
  2. Peradaban Kota Salatiga
  3. Wisata Sejarah Bangunan Tua di kota Salatiga
  4. PKK Kota Salatiga
  5. UKSW dan Kampoeng Salatiga tuntut Walikota
comments powered by Disqus
Live Cam Girls Live Boys Tribune Theme